SANGGAU – Pelaksanaan program penyediaan gizi bagi para pelajar kembali mendapat evaluasi kritis. Wakil Bupati sekaligus Ketua Satgas Percepatan Makan Bergizi Gratis (MBG), Susana Herpena, mendapati praktik distribusi MBG Sanggau yang kurang tepat saat melakukan inspeksi mendadak di SMAN 3 Sanggau pada Jumat (13/2/2026).
Dalam kunjungannya, beliau menemukan bahwa sajian untuk siswa masih dikemas menggunakan plastik sekali pakai atau kantong kresek. Temuan ini langsung menjadi perhatian serius pemerintah daerah karena dinilai menyalahi standar operasional kelayakan.
Risiko Kesehatan Pangan dalam Proses Distribusi MBG Sanggau
Penggunaan kantong kresek dalam kegiatan penyaluran Makan Bergizi Gratis di Sanggau dinilai sangat berisiko bagi kesehatan para penerima manfaat. Susana Herpena menegaskan bahwa mengemas makanan—terutama yang bersuhu panas—menggunakan plastik sekali pakai dapat memicu kontaminasi zat kimia berbahaya ke dalam asupan tersebut.
Tindakan ini juga dikhawatirkan dapat menurunkan kualitas nutrisi yang seharusnya diterima oleh pelajar. Sesuai aturan yang berlaku, distribusi makanan tambahan idealnya dilakukan memakai wadah yang aman dan bersifat reusable (dapat digunakan kembali), seperti kotak makan bersekat atau ompreng stainless steel khusus.
Aspek Lingkungan pada Evaluasi Distribusi Makanan Bergizi Gratis
Tidak hanya berdampak pada jaminan mutu makanan, distribusi MBG Kabupaten Sanggau yang mengandalkan kemasan plastik sekali pakai juga berdampak buruk bagi kebersihan lingkungan. Sampah kresek yang dihasilkan berpotensi menambah beban limbah harian sekolah karena material tersebut sangat sulit didaur ulang.
Tindakan ini dianggap sebagai kelalaian standar pelayanan karena bertolak belakang dengan misi Badan Gizi Nasional (BGN) yang ingin menanamkan nilai edukasi kelestarian lingkungan kepada siswa. Menindaklanjuti temuan tersebut, Pemerintah Daerah melalui Satgas MBG akan terus memantau dan mendesak seluruh pihak penyedia agar konsisten menyajikan makanan menggunakan wadah ramah lingkungan yang telah difasilitasi.












