SINGKAWANG – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menyehatkan justru menjadi petaka bagi puluhan siswa MAN Model Singkawang. Alih-alih mendapatkan asupan nutrisi untuk belajar, para siswa ini terpaksa dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit setelah menyantap paket makanan yang disediakan di sekolah.
Insiden ini bukan sekadar musibah medis, melainkan cerminan buruknya pengawasan standar keamanan pangan dalam pelaksanaan program MBG. Puluhan siswa mengeluhkan gejala serupa—pusing, mual, hingga muntah—tak lama setelah menghabiskan jatah makan mereka. Hal ini mengindikasikan adanya kontaminasi serius atau penggunaan bahan pangan yang tidak layak konsumsi.
Pihak otoritas dan penyelenggara program kini berada di bawah sorotan tajam. Bagaimana mungkin program pemerintah yang menyasar kesehatan anak sekolah justru lalai dalam prosedur dasar higienitas? Kejadian ini menuntut evaluasi total: mulai dari pemilihan vendor penyedia makanan hingga proses distribusi yang harus dipantau ketat oleh Dinas Kesehatan maupun pihak sekolah.
Nyawa dan kesehatan siswa tidak boleh menjadi bahan pertaruhan dalam uji coba program apa pun. Pemerintah Kota Singkawang dan instansi terkait harus segera mengusut tuntas penyebab keracunan ini dan memberikan sanksi tegas kepada pihak penyedia jasa boga yang lalai. Tanpa standar operasional (SOP) yang ketat dan transparan, program Makan Bergizi Gratis hanya akan menjadi ancaman baru bagi keselamatan siswa di sekolah.
Sedikitnya 56 orang siswa MAN Model Singkawang terindikasi keracunan usai menyantap MBG. Diantaranya sekitar 25 sampai 31 orang dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat, Jumat (6/2/2026).
Dari informasi yang dihimpun. Diperkirakan awal mula kejadian 5 Februari 2026 usai menyantap MBG sekitar 12.30 wib.
Para siswa siswi MAN Model menyantap MBG yang berasal dari Dapur MBG di Bukit Batu Singkawang Tengah.


