SANGGAU – Cita-cita menuju “Indonesia Emas 2045” seolah membentur dinding tebal di Dusun Berakak. Di saat pemerintah pusat dan daerah gencar menyuarakan transformasi pendidikan, realitas pahit justru harus ditelan mentah-mentah oleh puluhan siswa dan tenaga pengajar di SMP Negeri 4 SATAP Tayan Hulu.
Sekolah yang berdiri kokoh di atas lahan seluas 5.270 m² ini menjadi saksi bisu betapa pendidikan di wilayah pedalaman masih harus berkompromi dengan alam. Setiap kali awan hitam menggelayut dan curah hujan meninggi, kecemasan mulai merayap di hati para siswa. Bukan karena materi pelajaran yang sulit, melainkan karena akses menuju sekolah yang berubah menjadi jebakan lumpur dan genangan yang sulit ditembus.
Data Sekolah yang Terisolasi Musiman
Secara administratif, sekolah ini memiliki identitas yang jelas dan sah secara hukum:
- Nama Sekolah: SMP Negeri 4 SATAP Tayan Hulu
- NPSN: 30109811
- Alamat: Jl. Simpang Kiri RT.01 Berakak, Kab. Sanggau
- Koordinat Geografis: Lintang 0.457000000000, Bujur 110.229400000000
- Status: Negeri (Provinsi Kalimantan Barat)
Sumber: Pusdatin Kemendikdasmen 2026
Antara Semangat dan Pengabaian
Hambatan ini bukanlah fenomena baru. Ini adalah lagu lama yang terus diputar ulang setiap tahun. Para siswa, yang merupakan calon penerus masa depan Tayan Hulu, dipaksa bertaruh dengan keselamatan dan kebersihan pakaian demi bisa duduk di bangku kelas. Begitu juga dengan para tenaga pengajar yang dedikasinya diuji oleh infrastruktur yang tak kunjung dibenahi.
Hingga berita ini diturunkan, belum terlihat adanya upaya serius maupun langkah nyata dari dinas terkait di Kabupaten Sanggau untuk mengatasi persoalan kronis ini. Publik pun bertanya-tanya: sejauh mana kesungguhan pemerintah dalam mewujudkan visi kemajuan pendidikan jika infrastruktur dasar saja dibiarkan luruh oleh air hujan?
Cerminan Visi Pemerintah
Sekolah negeri seharusnya menjadi etalase kesungguhan pemerintah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun, kondisi di SMPN 4 SATAP Tayan Hulu justru menjadi cermin retak dari sebuah komitmen. Jika akses menuju sekolah saja masih menjadi kemewahan yang sulit didapat saat hujan, maka janji tentang pemerataan pendidikan hanyalah sekadar jargon tanpa makna.
Meski demikian, semangat para siswa di Desa Berakak seolah menolak untuk padam. Di tengah kepungan lumpur, mereka tetap melangkah. Sebuah keteguhan yang seharusnya membuat malu mereka yang duduk di kursi kebijakan namun tetap diam seribu bahasa.
Masyarakat menanti, kapan “Indonesia Emas” akan benar-benar menyentuh Jl. Simpang Kiri, agar hujan tak lagi menjadi penghalang bagi anak-anak Sanggau untuk merajut mimpi.
Follow Akun media sosial kami:
Instagram | Facebook | Tiktok | Youtube













