Dugaan Skandal Under-Invoicing CPO Mengemuka, 10 Eksportir Besar Masuk Radar Investigasi

SOSOKINFORMASI — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membongkar dugaan praktik manipulasi nilai ekspor crude palm oil (CPO) atau under-invoicing yang disebut melibatkan sekitar 10 eksportir sawit terbesar di Indonesia.

Praktik tersebut diduga dilakukan secara sistematis oleh gabungan perusahaan domestik dan korporasi multinasional asing. Namun hingga kini, pemerintah belum membuka seluruh identitas perusahaan yang masuk dalam daftar investigasi karena alasan kehati-hatian hukum.

Menurut Purbaya, investigasi tertutup telah dilakukan oleh Kementerian Keuangan dengan metode pelacakan data perdagangan internasional secara diam-diam agar tidak terdeteksi pihak perusahaan terkait.

Modus yang diduga digunakan adalah pengalihan dokumen perdagangan melalui perusahaan perantara atau trading company di Singapura. Sementara barang fisik disebut tetap dikirim langsung ke negara tujuan akhir seperti Amerika Serikat tanpa perubahan jalur kapal.

Akibat skema tersebut, nilai ekspor yang tercatat di dalam negeri diduga jauh lebih rendah dibanding nilai transaksi sebenarnya. Dampaknya, potensi penerimaan negara dari pajak dan royalti berpotensi mengalami kerugian besar.

Purbaya bahkan memperkirakan praktik pengurangan nilai transaksi itu bisa mencapai sekitar 50 persen dari nilai sebenarnya.

Pelacakan awal disebut dilakukan menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) dengan mencocokkan manifes kapal dan dokumen kepabeanan internasional. Hasil analisis tersebut kini telah diserahkan kepada Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan dan Kejaksaan Agung Republik Indonesia untuk ditindaklanjuti melalui audit investigatif dan proses hukum.

Dalam keterangannya, Purbaya mengonfirmasi beberapa grup besar yang masuk radar investigasi, di antaranya Wilmar International, Musim Mas Group, dan PT Salim Ivomas Pratama Tbk.

Sementara untuk nama lain seperti PT Astra Agro Lestari Tbk dan Golden Agri-Resources, ia belum memberikan kepastian.

Adapun saat ditanya mengenai First Resources Limited, Cargill, dan Bumitama Agri Ltd, Purbaya memilih tidak memberikan komentar lebih lanjut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *