SOSOKINFORMASI – Tak ada yang lebih berat daripada memikul beban ekonomi sambil menjaga api mimpi agar tidak padam. Bagi Peri Pises, S.H., CIM, perjalanan menuju gelar Advokat bukanlah jalan setapak yang mulus, melainkan jalan terjal penuh peluh, rasa lelah yang menghunjam, dan air mata yang tersembunyi di balik kemudi bus dan tumpukan sayur.
Putra daerah asal Kalimantan Barat ini sejak kecil memendam cita-cita mulia: menjadi seorang Advokat. Namun, realita hidup sempat berkata lain. Kondisi ekonomi keluarga yang jauh dari kata cukup seolah menjadi tembok besar yang menghalangi langkahnya menuju bangku pendidikan tinggi. Bagi banyak orang, situasi ini mungkin menjadi alasan untuk menyerah, namun bagi Peri, keterpurukan hanyalah ujian tekad.

Membeli Mimpi dengan Keringat
Untuk membiayai setiap lembar ijazah dan biaya pendidikannya, Peri tidak memilih-milih pekerjaan. Ia rela melakoni hidup sebagai buruh panen di ladang, hingga menjadi buruh bongkar muat yang mengandalkan kekuatan fisik. Tak berhenti di situ, ia juga pernah menghabiskan siang dan malam di balik kemudi sebagai sopir bus dan taksi, bahkan berkeliling kampung menjajakan sayur mayur demi mengumpulkan pundi-pundi rupiah untuk sekolah.
“Ekonomi bukan penghalang untuk bersekolah, menjadi besar. Yang menghalangi cita-cita adalah tekadmu,” ungkap Peri Pises dengan nada mantap saat mengenang masa-masa sulitnya.
Baginya, setiap tetes keringat saat mengangkat barang atau mengemudikan kendaraan adalah investasi untuk masa depan yang lebih cerah. Lelah yang ia rasakan setiap hari diubahnya menjadi bahan bakar untuk tetap terjaga di malam hari demi menuntaskan studi hukumnya.
Puncak Penantian: Sumpah Advokat
Perjalanan panjang dan berliku itu akhirnya menemui muara yang indah. Pada tanggal 30 April 2026, bertempat di wilayah hukum Pengadilan Tinggi Bandung, Peri Pises resmi menjalani Pengambilan Sumpah Advokat. Kini, ia resmi bergabung dalam keluarga besar Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI) melalui Peradi Profesional.
Tak cukup dengan gelar Sarjana Hukum (S.H.) dan Certified Indonesian Mediator (CIM), semangat belajarnya masih berkobar. Saat ini, Peri tengah menempuh pendidikan lanjutan untuk gelar Magister Hukum (M.H.), yang diprediksi akan ia sandang pada Juli atau Agustus 2026 mendatang.
Pesan untuk Generasi Muda
Kisah Peri Pises adalah bukti nyata bahwa mimpi setinggi langit bisa digapai meski berangkat dari bumi yang paling rendah sekalipun. Harapannya, anak muda saat ini tidak mudah berputus asa hanya karena keterbatasan biaya atau fasilitas.
“Masa depan ada di tangan kita, berhentilah mengeluh, jangan takut untuk sakit di awal demi menjadi besar,” pesan Peri dengan penuh penekanan bagi mereka yang kini mungkin sedang berjuang di tengah keterbatasan.

Pesan Moral: Tekad yang Melampaui Takdir
Kisah Peri Pises mengajarkan kita bahwa nasib memang di tangan Tuhan, namun masa depan diukir oleh tangan kita sendiri. Keterbatasan ekonomi hanyalah sebuah keadaan, bukan sebuah keputusan akhir.
Tekad adalah mesin yang mampu menggerakkan impian saat realita mencoba menghentikannya. Jangan pernah merasa rendah karena pekerjaan kasar yang sedang Anda jalani hari ini, selama hal itu halal dan mendekatkan Anda pada cita-cita. Rasa lelah adalah harga yang harus dibayar untuk kesuksesan, dan harapan adalah kompas yang akan menuntun Anda pulang menuju kemenangan.
Jadilah pribadi yang tidak takut “sakit” di awal, karena hanya baja yang ditempa dalam api panaslah yang akan menjadi pedang yang paling tajam. Teruslah bermimpi, teruslah berjuang, karena pada akhirnya, dunia hanya akan mencatat hasil akhir dari perjuangan gigihmu.













