Pasar Kripto Memerah: Bitcoin Anjlok Nyaris 50% dari Titik Tertinggi
Pasar kripto sedang menghadapi tekanan berat. Hingga Kamis (19/2/2026), Bitcoin (BTC) mencatatkan penurunan tajam hingga menyentuh level US$67.060. Angka ini menunjukkan kemerosotan sebesar 47% jika dibandingkan dengan rekor tertingginya di level US$125.689 pada Oktober lalu.
Secara kumulatif (year-to-date), performa Bitcoin di tahun 2026 masih minus 24%. Tren negatif ini tidak hanya melanda Bitcoin, tetapi juga menyeret aset kripto lainnya dalam 24 jam terakhir:
- XRP: Turun 4%
- Solana: Turun 2,92%
- Ethereum: Turun 0,9%

Pemicu Utama: Sikap The Fed yang Terbelah
Ketidakpastian pasar dipicu oleh rilis notulensi pertemuan Bank Sentral AS (The Fed) yang menunjukkan perbedaan pandangan di antara para pejabatnya:
- Kubu Pro-Pemangkasan: Mendukung penurunan suku bunga jika inflasi mencapai target 2%.
- Kubu Pro-Kenaikan: Siap menaikkan suku bunga kembali jika inflasi tetap membandel di atas target.
Analis Ajaib Kripto, Panji Yudha, menyebutkan bahwa peluang pemangkasan suku bunga pada Maret mendatang hampir tertutup rapat (probabilitas status quo mencapai 93,6%). Hal ini menyusul data tenaga kerja AS yang secara mengejutkan tetap kuat.
Sentimen Investor & Fokus Selanjutnya
Kondisi ini memicu aksi jual masif karena investor mulai beralih dari aset berisiko tinggi (high-risk) ke aset aman (safe-haven) seperti emas.
Fokus Pasar Pekan Ini:
Investor kini menantikan rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) pada hari Jumat. Jika data inflasi favorit The Fed ini lebih tinggi dari ekspektasi, dolar AS dan imbal hasil obligasi kemungkinan akan naik, yang berisiko menekan lebih dalam harga aset spekulatif seperti kripto.








